Judul : Hafalan Sholat Delisa
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika
Halaman : 248 hlm
Hafalan Sholat Delisa
Tentang bacaan sholat anak 6 tahun dengan latar bencana tsunami ini sangat mengharukan. Tangis tak bias dibendung saat membaca novel ini. Nilai keihklasan dengan halus dijalin pengarang nya kedalam plot cerita dunia kanak-kanak ini. Buku yang bisa membuat pembaca cengeng karena arus kesedihan yang terus mengalir. Sungguh buku ini luar biasa!
Sholat lebih baik daripada tidur, itu adalah awa cerita dalam novel ini, menggambarkan sebuah kehidupan keluarga disebuah kampong lhokNga, yang setiap subuh terbiasa dengan sholat subuh berjamaah dengan keluarga, berbagai gaya bangun yang digambarkan pengarang dari empat orang anak dalam keluarga ini. Cut Aisah, Cut Zahara, Fatimah dan Delisa.Sungguh ini kelurga yang bahagia…
Delisa si bungsu, berwajah paling menggemaskan. Ia sungguh tidak terlihat seperti anak-anak lhok Nga lainnya. Beda sekali dengan kakaknya. Rambut Delisa ikal berwarna. Kulitnya putih kemerah-merahan bersih. Mata hijau. Deliasa terlihat seperti anak keturunan Turki-Spanyol ( meskipun itu jauh ke kakek-kakeknya Delisa).
Delisa juga memiliki hoby yang beda dengan anak-anak gadis kecil di komplek perumahan mereka. Ia setiap sore bermain bola bersama teman-teman lelakinya dibandingkan dengan kakak-kakak dan teman-teman ceweknya.
Pada suatu hari ibu membelikan sebuah kalung sebagai hadiah buat Delisa. Hadiah untuk hafalan sholat Delisa. Kalung yang dijanjikan Ummi buatnya, yang membuatnya semangat untuk menghafal bacaan sholat.
Novel ini disajikan dengan gaya sederhana namun sangat menyentuh. Penulis berhasil menghadurkan tokoh-tokoh dan suasana dengan begitu hidup. Islami dan luar biasa.
Begitulah sepenggal tentang awal dari cerita ini. Cerita yang berlanjut pada tema-tema yang enak untuk diikuti. Kalung separuh harga, jembatan keledai, Delisa Cinta Ummi karena Allah, 26 Desember 2004 itu!, berita-berita di TV, burung-burung pembawa buah, hidayah itu akhirnya dating, mereka semua pergi, kalung yang indah itu, pertemuan, pulang ke lhok Nga, hari-hari berlalu cepat, Delisa cinta abi karena Allah, negeri-negeri jauh!, Ibu kembali, Ajarkan kami arti ikhlas, Hadiah hafalan Sholat Delisa. Semua ini adalah bagian cerita ini yang jangan sampai kamu lewatkan untuk membacanya.
Buku ini ditulis dalam kesadaran ibadah. Buku ini mengajak kita mencintai kehidupan, juga kematian, mencintai anugrah juga musibah, dan mencintai indahnya Hidayah.
Buku yang bisa membawa pembaca seolah-olah sedang menyaksikan sebuah film documenter. Luar biasa!. Sungguh buku ini sangar Luar biasa.
Nihayah Rambe
Penulis adalah aktifis Forum Lingkar pena SUMUT
Kamis, 22 Mei 2008
Langganan:
Postingan (Atom)